Saturday, 18 November 2017

iSydney : 1st Chapter : Going around Sydney

Saya kebetulan datang dari keluarga kristen yang terbilang taat dan rajin beribadah. Walau saya harus mengkaui satu hal, saya mungkin tidak se-setia dan sepengabdi orang tua saya. Saya termasuk malas ke gereja. Tapi walau begitu, saya percaya satu hal. When there is no one you can depend on, you can only depend on God. Whether you like it or not, you need God. Yaa... bukan berarti pikiran saya sesempit mereka yang selalu fokus melulu sama agamanya. Bikin sakit kepala, demo pake berjilid - jilid. Ini yang saya suka dari Australia, no more demo berjilid. No more men with white daster ( if you know what i mean ). Hahahaha...

Back to square one, jadi hari minggu, saya harus ke gereja, Tapi ragu mau ke gereja mana. Akhirnya karena rekomendasi beberapa teman, saya ke gereja yang hanya beda 1 station sama tempat tinggal saya. Lokasinya di Chalmer St. Itupun alamatnya gak lengkap, dalam arti gak dikasih tau arah keluar nya exit pintu yang mana. Jadi saya cuma lihat alamatnya, cek google, ternyata turunnya di station Central. Saya pun hanya melangkah mengikuti kaki saja. Saya keluar ke arah south concourse. Tapi begitu tiba di jalan raya, saya bingung. Yang mana yang ke arah Chalmer St? Damn..! saya celingak celinguk gak jelas, akhirnya, saya hampiri seorang petugas pekerja kontraktor di dekat station. Diapun gak ngerti alamatnya. Tapi dia bilang, kalau saya ke kanan, itu nomornya makin kecil, jadi karena nomor rumahnya makin besar, saya mesti ke kiri. Jadilah saya ikutin arahan si petugas.Setelah jalan kurang lebih 2 - 3  menit, ketemu juga gerejanya! Akhirnyaaa.... untungnya tidak telat, jadi saya langsung masuk. Begitu masuk, seperti biasa ada penyambut tamu. Tentu karena gereja nya tidak besar, ketahuan banget lah kalau saya anggota baru. Begitu saya melangkah buat cari tempat duduk, penyambut tamunya bisik - bisik. Yaaa.. bisik - bisik sih, tapi lumayan gede karena saya bisa denger. mereka bilang, " kayaknya orang baru ya? ",, ya ampun kakak... kalau mau bisik - bisik, ikutin standard donk.. ahahahahhaa...

Kebaktian berjalan sekitar 1,5jam. Setelah kebaktian selesai, saya segera pulang ke apartement. Teman saya sudah sibuk whatsapp dan bilang ketemuan di Station jam 3 sore. Well, fine. Saya juga gak ada kerjaan lain sih. Jadilah saya pergi janjian sama teman saya. Kami pun jalan, makan dan have fun. Saya ditunjukkan semua turis spot di Sydney. But yeah.. since it is a VERY ICONIC tourist spot, buat saya bosan. Dan berhubung rupanya selama seminggu sebelum saya tiba di Sydney, cuaca sedang mendung dan sering hujan. Untungnya hari itu tidak hujan, tapi mendung. Jadi saya tidak bisa foto juga. Kami juga mengobrol lama sampai jam makan malam tiba. Teman saya termasuk heran dan takjub sama saya, karena di saat saya baru tiba di Sydney, saya sudah berani pergi sendiri, gak pake takut. Well, to be honest my friend, I AM SCARED. Tapi perkataan sepupu saya serta beberapa input dari backpacker, namanya jalan - jalan gak boleh takut. Dalam arti, saat anda mau jalan, dan tidak tahu jalan, tetap pasang muka pede. Kalau ternyata beneran tersesat, mending masuk ke convenience store macam sevel, circle K, etc dan tanya jalan ke mereka, daripada nanya orang - orang yang lewat, karena justru lebih bahaya, dan kita bisa aja dikerjain atau bahkan dirampok! dan especially, sepupu saya selalu bilang, malu banget kalau dia punya sepupu tapi gak independent. Mending tersesat, tapi loe dapat pengalaman, daripada loe gak berani sendiri. Well said, cousin!

Kami jalan - jalan ke Sydney Opera House, Sydney Bridge dan Darling Harbour. Pas ditanya, gimana kesannya? saya cuma bisa jawab, ' yaaaa.. biasa aja sih ". Guubbrraakk... saya yakin para pembaca akan bilang, saya gila! Well, i am! kalau membandingkan segi bangunan, arsitektur, dll, sebetulnya kita gak kalah. Bedanya, di Ausie bangunan tua dan kuno, apalagi yang ada nilai sejarah, dirawat bener - bener dan dijaga. Di indonesia, dibiarkan begitu saja. Coba tengok Jakarta, ada kota tua. Dirawat apa gak? baru benar - benar dirawat dan diperhatikan di zaman Jokowi-Ahok. Di Ausie, area macam kota tua, namanya The Rocks. Ini area asli hip banget, cafe tematik dan hotel banyak di area ini. Saya suka banget kawasan ini. Beda banget, karena semuanya bangunannya itu seperti bangunan Eropa. Sama - sama banyak bangunan tua ala eropa, tapi beda cara perawatannya. Padahal, kalau dirawat bener, saya cukup yakin, area kota tua di Jakarta, dari Stasiun Kota sampai Sunda Kelapa, bisa dibuat macam The Rocks.

Sydney at Night from apartment balcony
Bosan di kota, malamnya kami ke area Suburb, namanya Kingsford. Perjalanan dengan mobil cuma sekitar 20 menit dan lancar, bahkan jalanan bisa dibilang kosong! Ini bedanya. Jarak dari City ke Suburb ini, sebetulnya bahkan lebih jauh dibanding Kelapa Gading ke Gunung Sahari. Tapi karena jalanan gak macet, dan kalau macetpun maksimal tetap 30 menit perjalanan. Jadi gak terasa jauhnya. Coba di Jakarta? yep, jarak Kelapa Gading - Gunung Sahari, sekali jalan sama dengan bolak balik dari city ke suburb. Kingsford ini area orang indonesia..! Kenapa? karena makanan yang dijual disini, semuanya masakan Indonesia. Bayangin, nasi padang, ayam goreng, dll. Saya makan di restoran yang namanya KCR a.k.a Kingsford Chinese Restaurant. Wkwkwkwkw... saya harus bilang, makanan chinese food disini top markotop. Maap ya, saya gak banyak foto makanan. Nanti kalau balik lagi, saya akan foto dan review makanan ini di episode selanjutnya. Hihihihi.

Setelah makan, kamipun pulang ke rumah masing - masing. Saya di drop teman di depan apartment. Hahahaa.. tinggal saya bingung, besok saya mau ngapain ya selama seminggu? hahahaha..

Friday, 17 November 2017

iSydney : 1st Chapter : Day 1 and still counting up

Yeah, at least judulnya 1st chapter, ampe akhir november ini. I plan to make 12 chapter of my life here in Australia..hehehe.
Jadi saya terbang menggunakan pesawat kebanggaan Indonesia. Baru juga sampai di airport, rasanya berat mau pergi. Belum apa - apa udah kangen Indonesia ( yaelah, kayak gue diinget aja sama pemerintah ). Ini pertama kali saya menjejakkan kaki di T3 Ultimate, yang konon katanya mengalahkan Changi Airport. Tapi setelah menjejakkan kaki, biasa aja sih. Setelah masuk ke dalam - dalam sampai di ruang tunggu / boarding gate, tetep aja biasa banget. Apa mungkin efek saya udah terlalu sering ke Singapore sampai jadi brain wash gitu? Dunno.. 

Singkat cerita, saya masuk pesawat. Di pesawat, favorit saya duduk di aisle seat alias duduk di kursi yang dekat gang. Saya gak terlalu suka duduk window, apalagi duduk di tengah. Kebetulan, seat map nya 2-4-2. Sebelah saya seorang ibu - ibu, let's call her Tante. Dia gak keliatan ibu - ibu, malah lebih ke arah tipikal emak - emak gaul. Jadi saya panggil dia tante. Jujur saya gak tau namanya siapa. But she is such a very nice lady. Saya mengobrol cukup lama dengan dia sepanjang perjalanan. Saya jujur, tidak terlalu suka dengan pesawat overnight, karena asli, saya bahkan gak bisa tidur sepanjang perjalanan.  Pesawat berangkat tepat jam 22.30, mendarat di ausie keesokan hari pkl 9.30 pagi. Sepanjang perjalanan, saya bahkan tidak bisa tidur. Alhasil, pilek saya kambuh, dan saya sedikit pening begitu turun pesawat. Saya pikir, udara bakal panas, ternyata sedang hujan dan mendung. Alamaaaakkk,... begitu turun, buuussshh,.,.. angin berhembus, dan asli,, rasanya bahkan lebih dingin dari lembang ataupun puncak. Di Puncak / Lembang, saya bahkan gak pernah pake jaket / cardigan / sweater, tapi ini saya langsung pake jaket. Seriously..! Saya sampai berpikir, " mampus gue.. gimana kalau nanti winter? jadi apa gue? Segini aja gue udah kedinginan, ampe pake jaket, padahal cadangan lemak banyak di badan. Gak bener ini..! "

Saya pun bergegas ambil tas di compartment, dan tante yang duduk di sebelah saya bilang, " nanti kita barengan ya.. saya soalnya bingung ini, baru pertama kali ke Sydney. "
Dengan senyum meyakinkan, saya bilang iya dan janji akan temenin si tante. Asli deh, anda semua akan berpikir, " Loe gila apa? sama orang gak dikenal, loe malah baek - baek, mestinya curigaan. "
Well, ya gimana, saya juga gak sampai hati tinggalin nih tante, mana wajah dah melas gitu. Dan berhubung saya kerja di travel agent, tipikal tante - tante yang kayak gini, bikin sense of responsibility saya bekerja baik. Wkwkwkwkwkw... Kami pun jalan bareng sepanjang dari pesawat sampai di arrival hall. Again si tante panik pas udah deket imigrasi. Nah, ini penting nih. Ya hoki - hoki juga sih. Jadi sebelum pergi, banyak teman - teman Tour Leader mengingatkan saya, kalau ausie itu ketat imigrasinya, apalagi kalau ada petugas imigrasi yang orang india. Duile.. lengkap deh hidup loe saat masuk ke ausie kalau ketemu mereka. Begitu turun, biasa ada anjing pelacak, lalu kalau petugas imigrasinya orang india, kita bisa ditanyain macam - macam dan cukup menyebalkan sih. Tapi pada saat saya tiba, Heh?? mana anjing pelacaknya? ya mungkin memang bener sih, yang kyk gtu, faktor keberuntungan. Petugas imigrasi yang bertugas pun, semuanya bule, gak ada yang asia apalagi india. Si tante panik pas ditanya - tanya, tapi akhirnya lolos. Saya sengaja suruh dia masuk duluan, jadi kalau apa - apa, saya bisa bantu translate. 

Seperti petuah para pendahulu dan senior - senior WHV, the very 1st thing you have to do when you are arrive in Austrlia are : 
1. Beli Nomor Lokal  >> DONE! 
gitu nyampe saya langsung cari stall Optus / Vodafone / Telestra. kalau di ausie, Telestra itu macam telkomsel. Kalau ada WHV yang mau ke area pedalaman ausie, kerja di farm, paling bagus sih pakai telestra. Karena untuk Optus dan Vodafone, bahkan sinyal gak ada sama sekali di sana. Mau beli nomor lokalpun, si tante ikutan, karena dia stay 2 minggu. Kembali saya bantu dan temenin beliau beli nomor lokal.
2. Beli OPAL Card  >> DONE! 
pengalaman travelling, saya tanya sama si penjual optus, dimana saya bisa beli opal card, dia tunjuk convenience store di sebrang stall optus. OPAL Card itu apa ya? OPAL card itu kartu transportasi umum di seluruh Ausie. Kalau di jakarta macam emoney, flazz, etc. Kalau di Spore, kita sebutnya EZlink. Ini penting, karena OPAL Card berlaku untuk semua transportasi yang ada di Ausie. Kartu gak bsia diuangkan kembali, jadi kalau mau isi, harus bijaksana ya.
3. Buka Rekening Lokal di Ausie  >> DONE! 
saya tiba sabtu, jadi senin saya langsung urus ke bank lokal di ausie. FYI, kalau anda pegang NPWP Indonesia, per 6 bulan lalu, sepertinya hampir semua bank lokal ausie akan minta data NPWP kita. Jadi bawa NPWP anda ya kalau mau buka rekening di bank lokak ausie.
4. Bikin TFN ( Tax File Number ) >> DONE! 
sehabis buka rekening, saya pulang, lalu apply TFN. hanya dalam 1 minggu saya dikasih surat untuk nomor TFN saya.

Balik ke scene 1, saat saya sudah beli OPAL card. Si tante masih sibuk telepon temennya yang akan jemput. She plead with me to accompany her untill her friends come and pick-up her. Jadi saya bantu telepon temannya, juga bantu cariin temennya. Alhasil, kami menunggu hampir 1 jam, sampai temannya datang menjemput. Saya sudah siap berpisah dengan si tante, tapi tahu - tahu, tante baik hati ini bilang ke temennya untuk anterin saya dulu. Heh?? saya jadi gak enak hati..! Asli..! bukan aji mumpung ya.. tapi namanya di negara bule, buat orang indo, kudu hidup hemat..! dan asli saya gak enak hati dianterin sampai depan apartment saya tinggal. You know, life in Australia is tough, mate.. Huff.. Tapi dalam hati, saya pun tetap bersyukur karena dianterin.

My 1st meal in Sydney
Saya tiba di apartment, dibantu oleh roommate saya. Saya jujur gak kenal siapa - siapa di Sydney. Yaaaahh...actually ada sih kenal satu temen, this friend is a childhood friend and also sort of a far relatives or cousin. Complicated, right? Don't worry. But this friend is a very nice person. Tapi asli, saya gak mau repotin orang..! gimana gak, bawa badan sendiri udah repot, buat apa saya repotin orang lagi. Begitu tiba, saya kenalan dengan roommate saya. kami share 1 kamar bertiga termasuk saya. Roommate yang bantu saya check-in itu orang indonesia. Sedangkan roommate yang satu lagi, ternyata orang jepang. Yeay..! bisa minta gratisan ajarin bahasa jepang nih.. wkkwkwkww...


My 1st Dinner in Sydney
Begitu tiba, kebetulan roommate indo mau keluar apartment. Saya minta diajak keliling sekitaran apartment. Jadilah saya diajak keliling sebentar. Untungnya saya gampang inget jalan, jadi saya ngerti area sekitaran apartement. Kamipun berpisah di Westfield. Lalu saya jalan kaki, balik ke apartment. Karena batere hape sudah sekarat, saya terpaksa beli power bank di miniso, lalu makan di sekitaran apartment. Karena saya tinggal di City, daerahnya ramai dan very lively, jauh berbeda sama daerah suburb. Teman saya yang baik hati itu, lihat Instagram saya, ikutan shock! lalu comment di Instagram, " loe lagi di sydney?! " Jadilah kami mengobrol di Whatsapp dan saling bertukar kabar. Lalu memutuskan, besok, hari minggu harus ketemuan. Saya balik ke apartment, santai - santai, bongkar koper, lalu duduk - duduk mengobrol dengan owner apartment dan roommate saya. Malamnya saya lapar! saya pun makan di Ajisen Ramen, Booo...porsinya besar pake bangeett...mana habis? akhirnya karena lapar berat, saya habiskan hanya daging dan separuh porsi nasinya. I'm Full dan pengen tidur nyenyak malam ini. Sebelum tidur, saya sempat lihat - lihat lokasi untuk tempat saya ke gereja esok hari, pelajari map nya. saya pun tidur, dan semoga saya besok tidak tersesat. hihihi...

Saturday, 11 November 2017

iSYDNEY : 1st chapter : Preparation

so guys, here i am.
i think this is the 1st post in 2017.
kali ini, saya akan cerita ( bukan tentang makanan ya ) awal saya bisa terdampar ke negeri kangguru.

jadi ceritanya, sekitar pertengahan 2016, saya ngobrol dengan teman saya. Bisa dibilang, awalnya obrolan iseng, gak jelas. Teman saya bilang, dia mau rencana ke Australia dengan Working Holiday Visa. Saya yang dengar lantas bengong. What is Working Holiday Visa? setelah panjang lebar tinggi dijelaskan oleh teman saya, akhirnya, saya mencoba cari tahu lebih banyak tentang jenis visa ini. Setelah banyak info yang masuk, saya pun melakukan persiapan untuk apply visa. Persyaratan dokumen untuk visanya cukup mudah. 
Berikut Listnya : 
1. Paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan.
2. IELTS / TOEFL certificate
3. SPRI ( Surat Pendukung dari Pemerintah )
4. Form Visa 1208
5. CV / Resume
6. Medical Check-up
7. Bukti Keuangan min. AUD 5000
8. Copy KK dan akte lahir
9. pas foto berwarna 2 lembar ukuran paspor
10. Copy Ijazah Terakhir

Dokumennya memang tidak susah, tapi melengkapi segini banyak, menguras waktu, tenaga dan terutama duit. Untuk IELTS saja, perlu dana hampir 3jt, sedangkan untuk apply visanya juga butuh 5jt, untuk medical check-up perlu sekitar 1jt. Jadi kalau cuma modal bikin visa, perlu sekitar 9 - 10jt. 
Desember 2016, saya mulai berbenah. Awal Januari 2017, saya ikut kelas persiapan IELTS. Setelah tes, hasilnya bagus, lalu saya langsung daftar permintaan untuk SPRI melalui website Dirjen Imigrasi Indonesia. Sayangnya waktu itu, websitenya lagi ditutup, karena quota WHV ini, memang hanya dijatah untuk 1000 orang per tahun. Saya hampir putus asa, namun pada saat bulan februari, saya lihat, pendaftaran dibuka kembali. Jadilah saya isi form online, dan sambil menunggu panggilan interview dari Dirjen Imigrasi, pelan - pelan saya lengkapi dokumen - dokumen yang diperlukan. Untuk permintaan SPRI saja, kita butuh melengkapi dokumen juga. 
Berikut listnya : 
1. Form Identitas ( download dari link yang diberikan )
2. KTP
3. Akte Lahir
4. paspor dengan masa berlaku min.12 bulan
5. Ijazah S1, kalau belum lulus harus ada surat keterangan dari kampus dan Kartu Tanda Mahasiswa.
6. IELTS certificate ( min.Skor 4.5 ) atau TOEFL IBT ( min.Skore 32 )
7. Surat keterangan Bank dan min.saldo AUD 5000
8. Pas foto berwarna, latar putih, 1 lembar, ukuran 4 x 6 

untuk permintaan SPRI tidak ada biaya sama sekali. Tapi kebayang donk, gimana rempongnya kita persiapin semua dokumen pendukung? saya sendiri tipe yang amat sangat cuek. Jadi sedikit kelimpungan pada saat harus melengkapi banyak dokumen. Saya daftar permintaan SPRI dari Februari 2017, namun baru dapat panggilan dari Dirjen Imigrasi sekitar akhir bulan Agustus 2017. ini yang daftar Februari 2017 lho. Kebayang gak, gimana nasib mereka yang appky setelah Juli 2017? itupun yang saya dengar, ada yang daftar december 2016 belum dipanggil sama sekali. Glek..! saya langsung jiper. Mana sempat website Dirjen Imigrasi down karena pada saat dia buka ulang pendaftaran di bulan Juli 2017, itu macam seluruh indonesia akses ke website mereka, dan website mereka sampai jebol..! wuiihhh... sadisnya persaingan WHV disini. Setelah dapat panggilan dari Dirjen Imigrasi, saya menunggu lagi hampir 1 minggu sampai SPRI saya terima melalui email. Begitu masuk email, saya langsung buru2 submit dokumen ke VFS Australia. Setelah submit dokumen, pihak embassy akan memberikan kita semacam ID untuk medical check-up di rumah sakit rujukan yang ada kerja sama dengan Australia Embassy. Setelah check-up, saya hanya perlu 1 atau 2 hari menunggu visa keluar. daaannn,.. visanya APPROVED..! 

Saya bahagia sekali,,! tapi ternyata kebahagiannya hanya sebentar, karena saya tenggelam dalam tumpukan pekerjaan karena saya harus resign dari posisi seaya sebagai supervisor di suatu travel agent besar. Saya akuin, awalnya semangat mau pergi, tapi lambat laun, macam ada perasaan ragu. Tapi saya tepis dan karena dukungan orang tua, saya tetap berangkat tepat waktu. Hal paling ribet adalah pada saat packing..! Gimana cara, keperluan pribadi ( baju, obat, dll ), dipacking dalam 1 koper? alhasil, saya sering banget konsultasi sama teman - teman soal packing. Ini pun, saya akuin keluar duit banyak..! Mulai dari beli tiket, koper, dll...kalau saya hitung - hitung, ongkos yang dikeluarin sampai deh puluhan juta..! hahahaha... Singkat cerita saya mulai packing, dan alhasil, saya bawa 1 koper medium, 1 koper kecil dan tas punggung.. gileeehh,,rempongnya..! Kalau saya pikir secara logika, kayaknya semacam mimpi bisa pergi ke Australia,,kwkwkkwkw,, 
posting berikutnya, saya akan info seperti apa pengalaman saya selama di Sydney.

Monday, 12 December 2016

SINGAPORE NEVER FAILS : Goodbye Singapore, till we meet again!

That's true..! Saying goodbye, is always sad. It brings tear to my eyes. Especially, when i have to say goodbye to Chili Crab etc. The list is endless. Hahahahaa... Lebay yaa.. berhubung hari terakhir, teman saya sampai terkaget - kaget lihat menu saya. Saya sengaja tidak makan pagi, dengan alasan, saya mau menghabiskan duit SGD sampai ke receh - recehnya. Bayangin aja ya, udah tinggal recehan aja, saya masih bisa makan 2 menu! Yessss..! 2 Menu! Apa aja tuh?

Rice with chop chicken and papaya salad
begitu tiba, kami ke area basement. Di area tsb, ada Food court, ada supermarket, dll. Lengkap! Saya pun memutuskan makan di fast food thailand. Aaahh.. sebetulnya pengen Mango Sticky Rice, tapi behubung lapar berat, saya makan Rice with Chicken Chop and Papaya Salad. Huwaaaa..porsinya padahal gak gede, tapi lumayan kenyang. Saya sambil makan, sambil nonton, sambil ngobrol. Rasa chop chickennya macam ayam yang ada di nasi hainam, Namun agak lebih nikmat karena dicocol saus thailand gitu. Yang saya suka sih papaya saladnya. Karena dari pepaya yang masih agak mentah, dicampur butiran kacang. Enak..! Selesai makan, lalu selesai makan, kami melipir ke toko mainan untuk beli oleh - oleh.

Berhubung teman saya belum makan, jadilah kami beli SUBWAY Sandwich..! itu lho.. kalau penggemar drama korea, pasti akan bilang, si sandwich ini selalu muncul di setiap drama. Hahaha.. Jadilah kami makan lagi, plus pake meat ball dan alpukat. Rasanya? buat saya tooopp! Rotinya kami pake honey oat.. Makin top deh! 

Puas makan, kami janjian lagi dengan sepupu saya di airport, buat ambil oleh2 terakhir.. ahahahah... Fried Pork Skin! ahahaah.. beli khusus di restoran thailand di singapore, di area Nichols high way. Dan gak ketinggalan Moon Cake! hahaha... Setelah itu kami check-in dan say goodbye kepada sepupu saya. Begitu masuk, sahabat saya tanya, pernah beli wine? Eeehh,.. buseettt.. wine sih belum pernah.. tapiii.. kalau whisky macam baileys pernah.. Jadilah saya menjelma sebagai tourguide tunjukkin baileys yang mana yang enak. Hehehehe... 

Kami pun pulang ke jakarta dengan hati riang, hati berat, bawaan berat segembol. Dan selalu deh.. tiap balik dari luar negeri, selalu segala sesuatunya berjalan lambat di Jakarta. Mulai dari internet, antri imigrasi ampe antri bagasi..! Haddduuuhhh....!! Hari itu, begitu landing, imigrasi penuh bangeettt..! antrian mengekor..counter yang buka cuma dua..! ya! dua! Kebayang gak sih?! kapan ya indonesia bisa punya loket - loket yang banyak? minimal kayak changi airport aja deh.,. dan begitu antri bagasi, saya dan teman baik saya sampai harus menahan pegal, karena gak ketemu trolley. Gak taunya, hari itu ada rombongan pulang umroh,, jadi semua trolley dipakai buat itu rombongan.. Aduh..! Norak.! beneran..! gimana ceritanya trolley bisa abis cuma karena rombongan pulang umroh?! tapi saya merasa wajar aja deh.. lebih tepatnya maklum. Karena kan gitu, orang indonesia kalau pulang dari luar negeri, semua keluarga, dari paling bocah ampe paling tua, harus kebagian oleh - oleh. Jadi bagasi bejibun itu sudah biasa dan dimaklumi. 

Begitu keluar airport, saya langsung pesan taxi. Selama kami jalan keluar dari area pengambilan bagasi menuju ke arah stand taxi, saya langsung lihat rombongan orang penuh berdiri! teryata mayoritas keluarga yang jemput rombongan umroh.. saya sampai bilang teman baik saya, " gilaaa.. untung mereka gak heboh teriak - teriak ya.. kalau gak, saya bakal merasa macam artis korea datang ke indo! ". dan sahabat saya pun tertawa. Kami pun naik taxi dan pulang ke rumah masing - masing. Good bye Singapore!




[ ADV ] RESINDA HOTEL KARAWANG managed by Padma Resorts Group

Ada yang pernah ke karawang? kalau saya, jujur belum pernah.. sama sekali. Ini pertama kalinya saya menjejakkan kaki di karawang. Itupun karena kantor tempat saya bekerja dapat undangan untuk visit hotel di area karawang. Nama hotel yang kami kunjungi adalah Resinda Hotel. Menurut saya, merupakan hotel termewah, terbaik dan terbagus di Karawang. Letaknya di Jl. Resinda. Jadi kalau keluar dari pintu tol karawang barat, tinggal ke kiri, lurus saja, dan hotelnya terletak di sebelah kiri jalan. Menjulang tinggi dan megah. 

Kamar
Begitu masuk, kami disambut oleh pihak hotel. Seluruh proses check-in berjalan baik dan lancar. Walau perjalanan kami dari Jakarta ke Karawang, memakan waktu hampir 3 jam lebih. Maklum ya, Jakarta gitu lho.. Macet..! Kami langsung check-in dan masuk ke kamar. Kamar di hotel resinda ini cukup besar. Menurut saya besar. Compare dengan apartement tempat saya tinggal, boooo,, ini jelas jauh lebih besar dan mewah. Dasar norak emang saya ini.. hehehe.. Tipe kamar paling standardnya adalah Signature Deluxe, lalu Deluxe, Grand Deluxe, dst. semua tertata rapi, disediakan kitab suci juga. Saya sampai ternganga pas buka laci, menemukan kitab suci. Duuhh,, lengkap amat, padahal zaman sekarang kitab suci bisa di download dari applikasi hape, lha ini disediakan bentuk buku. Semoga tidak ada yang mencuri itu kitab suci. 
Kamar

Setelah masuk kamar, saya pun langsung menyalakan TV. Maklum, dirumah tidak pakai TV Kabel, jadi kalau menginap di hotel, saya langsung nonton TV sepuasnya, dan cari line TV yang ada drama koreanya. Hihihi..ketahuan deh, saya penggila drama. Sekarang ini, saya sedang nonton Goblin, Legend of the Blue Sea. Tahu donk siapa aja pemerannya? hehehehe... Saya nonton drama, lalu mandi. Gak ngerti apa karena udah malam, atau memang kualitas air di karawang masih bagus, yang pasti, airnya dingin dan segar. Beda sama air di Jakarta. Saking dingin saya mandi pakai air hangat. Habis mandi, saya lihat ada timbangan electronic, saya pun iseng timbang berat badan. Ooohh.,.. tenyata berat badan saya belum bergeser.. Hmmm.. ada guna juga saya tiap pergi dan pulang selalu berdiri di dalam bus transjakarta. Jadi berat badan selalu seimbang! hahahhaha...

Kolam Renang
Sayangnya saya tidak menemukan hair dryer, berhubung sudah malam juga, saya malas telepon ke house keeping cuma buat tanya hair dryer. Jadi saya tunggu saja rambut saya sampai kering, lalu tidur. Pas tidur, ya ampuuunn.. itu bantal.. empuknya! beda emang, hotel bintang 5 sama hotel ecek - ecek. Biasa saya dan keluarga selalu menginap di hotel ecek - ecek. Sekarang saya menginap di hotel bintang 5, kadang kelakuan suka macam anak desa baru pindah ke kota. 

Keesokkan paginya, saya bangun, dan sudah lengkap dan siap untuk mandi. Selesai mandi, saya pun sarapan. Dan saya lihat teman - teman saya sudah duduk manis di restoran hotel. Saya pun keliling restoran buat lihat menu. Huwaaaa.. ssoooo many kind of food! this is H.E.A.V.E.N..! Ada waffle, ada jajanan khas indonesia, ada salad, ada nasi, sayur dan lauk pauk.. ada makanan jepang juga, lalu  pastry, dan desserts. I love every food in that restaurant..! setelah makan, saya foto - foto keliling hotel. Don't ask me kenapa saya gak pernah ada di dalam foto yang dipost di blog ini. Simply because i try to avoid things that make me fat, like scales, mirrors and photographs. Hihihii...

Grand Ballroom
Setelah puas foto, saya kembali ke kamar dan menonton TV. Ya ampun.. itu TV Kabel emang tega! Baru juga makan pagi, pas nonton TV, malah nonton acara masak - masak korea, berjudul : " Home Food Rescue ( season 2 )". Memang sih temanya bikin kimchi, tapi koq ya bikin ngiler bener..! hahahaha... setelah itu saya dapat telepon dari kamar sebelah, pada bilang dipanggil meeting di ruang meeting. Jadilah kami melakukan internal meeting dalam short escape ini.  Di resinda sendiri, 3 -4 meeting room, dan 1 Grand Hall terluas di Karawang. Totally gorgeus and big..! Seandainya saya punya pacar kaya, mau dah married disini..! hahahaha.. Di Resinda juga ada Onsen ( tempat pemandian air panas jepang. ), namun onsennya khusus untuk cowok saja. Berhubung tamu di Resinda Hotel Karawang kebanyakan adalah businessman asal Jepang. Saya tidak ikut mandi air hangat, tapi dari foto - foto yang teman saya ambil, onsenya bersih, terawat, rapi dan menyenangkan. Persis seperti di Jepang. Kolam renang juga ada dan cukup besar. Kalau anda butuh a romantic getaway, atau butuh a short escape, this Hotel is a top recommended! 

Setelah meeting, kami pun keliling hotel sampai jam makan siang. Saat makan siang, kami dihidangkan menu pindang sapi, lalu ada es Goyobot, dll. Lebih sederhana dibanding breakfast, tapi lebih mengenyangkan dan tetap enak di lidah. Setelah makan siang, saya sudah harus berangkat ke Jakarta lebih awal dibanding rombongan, karena saya ada perlu ke daerah Bandengan. Daaann,.. saya kena masalah, karena gak ada Grab Car ataupun Uber yang available di Karawang! Mana tiba - tiba, duuuaarr,, hujan turun sederas - derasnya. Saya sampai ngeri kalau ada atap terbang, atau pohon rubuh. Tapiii.. Tuhan sungguh baik.. Gak lama, saya dapat notifications, dapat supir Grab..! ya ampuuuunnn... Gilaaa... it's a miracle! Hahaha... saya pun segera telepon dan berangkat naik Grab ke Jakarta. Huff.. what a fantastic holiday! walau sepanjang jalan pulang, tol macet banget, tapi saya bisa tiba tepat waktu di Jakarta.

Friday, 30 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : We sing, eat and happy!

sebetulnya, saya dan sahabat saya ke singapore untuk mengikuti konser musik. Bukan nonton konser, tapi kami ini performers. Paduan Suara yang kami ikuti ini terbentuk dari banyak interdominasi gereja dan paduan suara tempat kami bernaung ini beruntung memiliki seorang mantan music director dari Singapore. Berhubung mantan music director kami akan mengadakan konser di Singapore, maka beliaupun mengundang kami untuk datang ke singapore dan join konser disana. Yaaa.. intinya sih konser, tapi namanya ke Singapore, tetep aja harus melipir buat kuliner dan belanja. hahahaha.. konser mungkin bisa jadi alasan ke-2.

lau pa sat from above ( courtesy : wikipedia )
Hari itu, hari pertama kami latihan sebelum konser. Paginya seperti biasa, saya dan sahabat saya bangun agak siang. Dari semalam saya sudah bilang ke sahabat saya, pokoknya besok mau makan di Lau Pa Sat / Telok Ayer Market. Apa itu Lau Pa Sat? Lau Pa Sat adalah salah satu hawker center di Singapore. Lokasinya di area business singapore, ibaratnya macam Sudirman / Kuningan-nya Singapore. Di dalam Lau Pa Sat ada macam - macam makanan. Gedungnya sendiri juga termasuk gedung bersejarah dan berbentuk oktagonal. Saya sampai cari dari google cara pergi kesana dan makanan apa aja yang terkenal disana. Berhubung saat saya ke Singapore itu menjelang F1, jalanan di sekitar Lau Pa Sat banyak di tutup dan dialihkan. Sehingga jalanan macet dan tersendat. Tapi tenang, macetnya tidak separah di Jakarta. Kami dapat double dekker bus dan duduk di atas. untung saja, karena kami tidak tahu jalan, ketika dari jauh saya sudah lihat jamnya Lau Pa Sat, saya langsung pencet bel dan turun dari bus. Kami hanya tinggal menyebrang dan Lau Pa Sat sudah di depan mata. Sampai di dalam, ada banyak stand makanan. 


Fish Soup
Dengan modal informasi dari Google, akhirnya kami putuskan makan Fish Soup. Huwaaa.. porsinya mantap dan enak banget! Memang sih, rasa kuahnya cenderung hambar, tapi menurut saya, rasanya jadi fresh dan lebih segar di lidah. Dan menurut saya, kalau kuahnya dibuat lebih kuat rasanya, justru rasa ikannya bisa hilang. Enaknya lagi, kuahnya tidak tercium bau amis. Semuanya pas! Dasar orang indonesia, makan selalu perlu gorengan, akhirnya saya beli kuotie juga 1 porsi. Kami makan berdua. Kuotienya, menurut saya agak kurang, malah cenderung kebanyakan kucai / daun bawang. Sehingga dagingnya tidak terlalu berasa. Namun yang saya suka, kuotie gorengnya cenderung less oil, malah kering dan tidak berminyak. Berbeda dengan kuotie yang pernah saya makan.Lau Pa Sat Bener - bener pantas menyandang titel pusat kuliner otentik singapore. 

Dari Lau Pa Sat, kami beranjak ke Bugis. Di bugis, saya cari tas punggung dan oleh - oleh lagi. Kami malah berakhir beli anting dan mochi. Setelah itu, kami mengantri untuk beli Share Tea di Bugis. Kami beli 2, karena kalau di singapore, biasanya beli 2 lebih murah. Kami pesan green tea with Vanila Cream dan Green tea with Sea Salt Cream. Kami beli beda rasa, supaya bisa saling cicip. Hari itu hujan deras, sehingga saya dan sahabat saya berpikir untuk langsung ke tempat latihan. Jadilah kami naik MRT ke Redhill Station. Tiba di tempat latihan, kami sempat banget foto - foto. Lalu kami pun minum Share Tea yang kami beli. 
Saya : Loe minum yang apa?
Sahabat : Gue minum yang sea salt.
Saya : Gue yang vanilla. Loe mau cobain? ( sambil sodorin gelas )
Sahabat : enak yang vanilla.
Saya : Enak yang sea salt menurut gue. Ya udah, itu buat loe aja, gue yang ini aja.
Teman Padus : iiihh,, selera loe mah aneh ya. Sea Salt kan asin?  dan loe bilang enak?
Saya : ( nyengir doank.. )

Latihan dimulai, dan kami latihan selama  2 hari. Selama 2 hari itu latihan selesai cukup malam.  Hahahaha.. Tiba di tempat menginap, kami langsung makan malam di dekat rumah. Saya bilangnya makan di Warteg Singapore. Itu lho, tempat makan di hawker yang jual macam - macam sayur dan masakan. Hadeeuuh... enak benar hidup ini. Saya makan nasi, daging babi dengan telor asin diatasnya dan tumis buncis. Ueeennaaakk... Now i can live again! Rasa makanan standard, tapi bener, makanan yang dimakan saat lapar, semuanya jadi enak! Apapun menunya, selalu enak di lidah dan perut! 

Rice & vegetable.

Thursday, 29 September 2016

SINGAPORE NEVER FAILS special edition : Mellben Seafood

Setiap kali saya ke Singapore, semua orang selalu bilang, " you should go and try the Chili Crab in Singapore ". Hmmm,... now i know why everybody recommended this menu to me. Chili Crab sepertinya merupakan icon makanan di Singapore. Salah satu yang terkenal di Singapore adalah Mellben Seafood. Based on Google, pendirinya bernama Melvin Soon. Restoran pertama dibuka di area Pasir Ris, selanjutnya mulai berkembang dan buka di Ang Mo Kio dan Toa Payao. Kalau ada yang belum pernah makan disini, saya akan share sedikit pengalaman makan saya di Mellben Seafood.

Jadi sepupu saya bilang," Loe kalau ke sini, harus makan Chili Crab. Loe suka kepiting gak? ". Saya pun jawab, kalau saya gak terlalu suka kepiting karena repot makannya. Sedangkan sahabat saya yang gak doyan duren itu, justru doyan banget kepiting, ampe bilang, "Justru itu seninya ccyyyiinn..makan kepiting emang harus pake repot, biar seru! ". Ooohh,, okay then..i'll go. Jadi hari itu, setelah menonton di AMK Hub, kami pun janjian dengan sepupu saya lagi untuk makan malam di Mellben Seafood Ang Mo Kio. Dia pun wanti - wanti bilang kita harus tag tempat duduk dulu, karena biasa antriannya panjang macam ular naga. Okay, berhubung saya dan sahabat saya ini pengacara ( Pengangguran banyak Acara, yang mana acara seminggu di Singapore cuma belanja dan makan, hahahaha ).. jadilah saya dan sahabat saya yang pergi dulu ke restoran tsb untuk antri. Tapi siapa sangka, memang saya lagi jodoh sama ini restoran. Antriannya gak panjang dan saya masih bisa duduk santai di taman dekat restoran  sampai sepupu saya datang. Begitu sepupu saya datang, kami pun langsung masuk ke restoran dan duduk memesan makanan. Di Mellben Seafood, ada pilihan kepitingnya. Kepiting normal dan besar. Yang normal size aja, menurut saya gede banget, apalagi yang big size? hahaha.. dan akhirnya, kami pun memesan Claypot Crab Beehoon, Salted Egg Crab dan Tumis Kangkung. Seperti apa rasanya? 2 kata, ENAK BANGET.

Claypot Crab Beehoon
Claypot Crab Beehoon ini termasuk menu andalan dan favorit di Mellben Seafood. Masakannya berkuah. Jadinya rasanya itu meresap sampai ke daging - daging kepiting di dalamnya. Sahabat saya, juga suka dengan menu ini. Jangan bayangkan beehoon nya itu macam bihun di Indonesia. Beehoon disini, bentuknya lebih mirip bakmi, bulet, panjang dan agak tebal. Terbuat dari beras. Kuahnya itu dari santan, tapi rasanya lebih ke arah susu. Manis, gurih sedikit berminyak. Saya pikir kepiting di Mellben Seafood ini dari Indonesia. Ehh,, tanya punya tanya, ternyata kepitingnya dari Sri Lanka. Wow.. rasanya beda. Dagingnya tebal dan banyak. Makan satu kepiting juga udah kenyang banget. Tekstur daging dan ukuran kepitingnya Top Markotop!

Salted Egg Crab
Menu kedua, Salted Egg Crab. Kepiting dimasak dengan telor asin. Rasanya gimana? this is my favourite! saya sampai harus minta maaf sama timbangan badan di rumah, karena berat badan saya pasti bertambah. Back to topic. Saya sih suka banget sama Salted Egg Crab. Kalau kata sahabat saya, rasa bumbunya kayak chiki. Hahahaha.. tapi seriusan enak banget ini bumbunya, ampe saya makan jilatin tempurung kepitingnya, buat makan bumbunya. Saya koret - koretin juga itu piring semua yang ada bumbunya. Ini lapar atau lapar, saya juga udah gak tahu. Namanya Salted Egg, rasanya pasti asin. Namun karena buat dimasak, salted eggnya diubah jadi macam saus gitu, dan rasanya jadi agak manis. Namun tidak merusak tekstur dan rasa salted egg yang asli. Walau kekurangannya, karena ini masakan kering, jadinya bumbunya tidak meresap sampai ke dalam daging, hanya menempel di tempurung kepitingnya.

Kangkung Belacan
Menu ketiga, tumis kangkung pakai terasi. Hahaha.. believe it or not. Buat saya, namanya makan seafood, paling enak pakai tumis kangkung. Mau pakai terasi atau gak, pokoknya, buat saya kangkung itu tumisan sayur favorit dan udah paling pas nemenin seafood. Tumisan kangkung di Mellben Seafood, kurang lebih rasanya mirip sama semua tumisan standard. Nothing special, beda harga aja. Kalau di jakarta pakai IDR, di Singapore pakai SGD. Kalau di luar negeri, makan kangkung trus kurs ke IDR, rasa - rasanya, saya bisa beli segerobak sayur isi kangkung. hahahaha..

Overall, menu kepiting ini, enaaaakkkk..! i should say, the Best Crab i've ever eat. Cuma begitu tagihan datang. Jreeennngg....! jangan di kurs ke rupiah saudara - saudara. Nanti kena serangan jantung. Yang pasti, abis liat bill, saya geleng - geleng kepala. 

So, Dear Cousin, pray for me to be success and hopefully my plan for next year can come true (or at least got a big amount salary like you get in Singapore). So next time, it will be my turn to treat you expensive food like what we eat in Mellben Seafood. Okay? 
With Love, your chubby & big eater sister.


Mellben Seafood AMK


After fighting with Crab